Kritografi Klasik Bagian II Oleh :Fadil Firmansyah
KRIPTOGRAFI KLASIK BAGIAN II
Beberapa Cipher Klasik
1. Caesar Cipher
2. Vigenere Cipher
3. Playfair Cipher
4. Affine Cipher
5. Hill Cipher
6. Enigma Cipher
1. Caesar Cipher
2. Vigenere Cipher
3. Playfair Cipher
4. Affine Cipher
5. Hill Cipher
6. Enigma Cipher
VIGENERE CIPHER
Termasuk ke dalam cipher abjad-majemuk (polyalpabetic substitution
cipher ). Dipublikasikan oleh diplomat (sekaligus seorang kriptologis) Perancis,
Blaise de Vigènere) pada abad 16 (tahun 1586). Tetapi sebenarnya Giovan Batista Belaso telah menggambarkannya
pertama kali pada tahun 1553 seperti ditulis di dalam bukunya La Cifra
del Sig. Giovan Batista Belaso. Algoritma tersebut baru dikenal luas 200 tahun kemudian yang oleh
penemunya cipher tersebut kemudian dinamakan Vigènere Cipher.
Setiap baris di dalam bujursangkar menyatakan huruf-huruf cipherteks yang diperoleh dengan Caesar Cipher. Artinya, setiap baris i merupakan pergeseran huruf alfabet sejauh i ke kanan
Contoh: kunci = sony
Plainteks: thisplaintext
Kunci: sonysonysonys
Hasil enkripsi seluruhnya adalah sebagai berikut:
Plainteks : thisplaintext
Kunci : sonysonysonys
Cipherteks : LVVQHZNGFHRVL
Huruf plainteks yang sama tidak selalu dienkripsi menjadi huruf cipheteks
yang sama pula, bergantung huruf kunci yang digunakan.
Contoh: huruf plainteks T dapat dienkripsi menjadi L atau H, dan huruf
cipherteks V dapat merepresentasikan huruf plainteks H, I, dan X. Hal di atas merupakan karakteristik dari cipher abjad-majemuk: setiap
huruf cipherteks dapat memiliki kemungkinan banyak huruf plainteks. Pada cipher substitusi sederhana, setiap huruf cipherteks selalu
menggantikan huruf plainteks tertentu.
Vigènere Cipher dapat mencegah frekuensi huruf-huruf di dalam
cipherteks yang mempunyai pola tertentu yang sama seperti pada
cipher abjad-tunggal. Jika periode kunci diketahui dan tidak terlalu panjang, maka kunci
dapat ditentukan dengan menulis program komputer untuk
melakukan exhaustive key search.
Varian Vigenere Cipher
1. Full Vigènere cipher
Setiap baris di dalam tabel tidak menyatakan pergeseran huruf,
tetapi merupakan permutasi huruf-huruf alfabet. Misalnya pada baris a susunan huruf-huruf alfabet adalah acak
seperti di bawah ini:
2. Auto-Key Vigènere cipher
Jika panjang kunci lebih kecil dari panjang plainteks, maka kunci
disambung dengan plainteks tersebut.
Misalnya,
Pesan: negara penghasil minyak
Kunci: INDO
maka kunci tersebut disambung dengan plainteks semula sehingga
panjang kunci menjadi sama dengan panjang plainteks:
Plainteks : negarapenghasilminyak
Kunci : INDONEGARAPENGHASILMI
3. Running-Key Vigènere cipher
Kunci adalah string yang sangat panjang yang diambil dari teks
bermakna (misalnya naskah proklamasi, naskah Pembukaan UUD
1945, terjemahan ayat di dalam kitab suci, dan lain-lain).
Misalnya,
Pesan: negarapenghasilminyak
Kunci: KEMANUSIAANYANGADILDA (NBERADAB)
Selanjutnya enkripsi dan dekripsi dilakukan seperti biasa.
PLAYFAIR CIPHER
Ditemukan oleh Sir Charles Wheatstone namun dipromosikan oleh
Baron Lyon Playfair pada tahun 1854. Cipher ini mengenkripsi pasangan huruf (bigram), bukan huruf
tunggal seperti pada cipher klasik lainnya.Tujuannya adalah untuk membuat analisis frekuensi menjadi sangat
sulit sebab frekuensi kemunculan huruf-huruf di dalam cipherteks
menjadi datar (flat).
Kunci dapat dipilih dari sebuah kalimat yang mudah diingat, misalnya:
JALAN GANESHA SEPULUH
Buang huruf yang berulang dan huruf J jika ada:
ALNGESHPU
Lalu tambahkan huruf-huruf yang belum ada (kecuali J):
ALNGESHPUBCDFIKMOQRTVWXYZ
Masukkan ke dalam bujursangkar:
Pesan yang akan dienkripsi diatur terlebih dahulu sebagai berikut: 1. Ganti huruf j (bila ada) dengan i
2. Tulis pesan dalam pasangan huruf (bigram).
3. Jangan sampai ada pasangan huruf yang sama. Jika ada, sisipkan x di
tengahnya
4. Jika jumlah huruf ganjil,tambahkan huruf x di akhir
Algoritma enkripsi:
Algoritma enkripsi:
1. Jika dua huruf terdapat pada baris kunci yang sama maka tiap huruf
diganti dengan huruf di kanannya (bersifat siklik).
2. Jika dua huruf terdapat pada kolom kunci yang sama maka tiap huruf diganti dengan huruf di bawahnya (bersifat siklik).
2. Jika dua huruf terdapat pada kolom kunci yang sama maka tiap huruf diganti dengan huruf di bawahnya (bersifat siklik).
3. Jika dua huruf tidak pada baris yang sama atau kolom yang sama,
maka:
• huruf pertama diganti dengan huruf pada perpotongan baris huruf
pertama dengan kolom huruf kedua.
• huruf kedua diganti dengan huruf pada titik sudut keempat dari
persegi panjang yang dibentuk dari tiga huruf yang digunakan sampai
sejauh ini.
Algoritma dekripsi kebalikan dari algoritma enkripsi. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut:
1. Jika dua huruf terdapat pada baris bujursangkar yang sama maka
tiap huruf diganti dengan huruf di kirinya.
2. Jika dua huruf terdapat pada kolom bujursangkar yang sama maka
tiap huruf diganti dengan huruf di atasnya.
3. Jika dua huruf tidak pada baris yang sama atau kolom yang sama,
maka huruf pertama diganti dengan huruf pada perpotongan baris
huruf pertama dengan kolom huruf kedua. Huruf kedua diganti
dengan huruf pada titik sudut keempat dari persegi panjang yang
dibentuk dari tiga huruf yang digunakan sampai sejauh ini.
4. Buanglah huruf X yang tidak mengandung makna.
SOURCE : https://onlinelearning.uhamka.ac.id/
Comments
Post a Comment